Musik Tong-Tong

Minggu, 28 November 2010




Fenomena globalisasi dengan sekian nilai yang dibawanya, telah memunculkan beragam kekhawatiran masyarakat lokal (Madura), karena kebudayaan baru yang dibawa oleh globalisasi tampaknya secara perlahan mulai menggerus kekayaan lokal. Tidak heran beberapa tokoh di Madura memunculkan gagasan tentang revitalisasi kebudayaan yang dimiliki Madura. Konsepsi revitalisasi merupakan tawaran untuk menyelamatkan kebudayaan agar tetap eksis, salah satunya dalam bidang seni musik lokal di tengah kemajuan seni musik kekinian. Sebab, membiarkan seni musik lokal dengan apa adanya, sama halnya dengan menenggelamkan kekayaan lokal tersebut dalam kemajuan seni musik modern. Hanya revitalisasi seni musik lokal yang bisa diwujudkan untuk tetap mempertahan kannya, sehingga tradisi seni musik lokal akan tetap menarik dan eksis di tengah belantika musik-musik modern yang terus berkembang.
Salah satu wujud kongkret dari revitalisasi ini adalah pengembangan seni musik Tong-Tong di Madura yang sangat fenomenal, terutama pada saat bulan Ramadhan. Tong-Tong tampak telah menjadi seperang kat seni musik yang memiliki nilai religius dan sangat lokalistik, karena geliatnya yang biasa dilekatkan pada saat momentum suci bulan Ramadhan.
Seni Musik Tong-Tong, sejak beberapa tahun terakhir ini tampaknya menjadi fenomena baru dalam kontelasi musik lokal di Madura. Musik



Tong- Tong adalah musik dengan peralatan dari bambu dan dibuat dengan model sederhana, tapi mampu menghadirkan bunyi yang rancak dan tak kalah indah dari musik modern, merupakan kekayaan lokal yang mampu mewarnai kehidupan masyarakat, terutama di Madura. Tong-Tong yang dalam kehidupan masyarakat kampung hanya dimanfaatkan terbatas untuk memberi peringatan atau isyarat saat ada kejadian-kejadian penting, misalnya saat ada pencurian, akan dimulainya kegiatan-kegiatan desa dan saat ada kejadian-kejadian yang lain, kini telah dihadirkan menjadi seperangkat alat musik yang mampu melahirkan musik yang menarik. Artinya, Tong-Tong pada awalnya tidak lebih hanya sekedar berbunyi. Tidak lebih. Sehingga nyaris kekayaan lokal ini hilang dari kehidupan masyarakat ketika segala bunyi-bunyian mampu diciptakan dengan nuansa yang lebih menarik dan berwama kekinian. Akan tetapi, dengan kreatifitas yang tinggi masyarakat Madura, Tong-Tong yang sangat sederhanapun mampu disulap menjadi seperangkat alat musik yang tidak kalah indah dan menarik dari pada musik modern.


Musik Tong-Tong, selain sebagai perwujudan lain seni musik, juga memiliki karakter khas suatu kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan kehidupan masa kini. Seni musik Tong-Tong, bukan hanya menjadi alat musik penghibur, tetapi sebagai bukti bahwa setiap kekayaan lokal tidak bisa langsung diputuskan harus ditinggalkan dan dibiarkan. Dengan segala keunikannya, musik Tong-Tong telah mampu membuktikan sebagai seni yang juga bisa mewarnai kontelasi seni musik modern.

Tong-Tong adalah khazanah kebudayaan Madura, yang sangat bernafaskan seni lokal dan mencerminkan tentang karakteristik kondisi Madura yang sesungguhnya. Tong-Tong tidak hanya memberikan keindahan bunyi, tetapi juga memberikan ajaran tentang keluhuran nilai-nilai seni lokal. Dengan perangkat dari bambu, memang terkesan musik Tong-Tong terlalu sederhana. Tapi, di balik kesederhaan itulah, Tong-Tong tampaknya mengajarkan tentang sebuah fenomena yang sangat unik. Dengan kata lain, kesederhaan akan melahirkan sesuatu yang luar biasa apabila dilakukan dengan komitmen gotong royong yang sangat tinggi. Musik Tong-Tong adalah perpaduan dari nilai-nilai kebudayaan Madura, yang mengajarkan tentang kebersamaan, sehingga melahirkan kesatuan bunyi yang sangat indah serta tetap dengan ciri khusus.

0 komentar:

Poskan Komentar


ShoutMix chat widget